Resensi buku

Politik Identitas Indonesia — Malaysia

 

 Oleh: Elizabeth Maura Anastasia (Mahasiswa Ilmu Politik UNESA)

Penulis: Moch. Mubarok Muharam, dkk.

Penerbit: Goresan Pena

Tahun terbit: Oktober 2025

 

Buku ini membahas identitas politik Indonesia dan Malaysia serta bagaimana identitas itu tumbuh dan berkembang dalam konteks dua negara dengan latar budaya, sejarah, dan tradisi politik yang berbeda, namun saling mempengaruhi. Penulis menekankan bahwa identitas nasional bukan sekadar label—ia merupakan konstruksi sosial-politik yang dibentuk oleh faktor-faktor budaya seperti bahasa, adat istiadat, dan nilai-nilai, ditambah sejarah panjang kolonialisme, perjuangan kemerdekaan, serta dinamika negara pascamerdeka. Faktor agama dan struktur institusional turut membentuk bagaimana warga negara memahami kewarganegaraan, memilih pemimpin, menilai kebijakan publik, dan loyal terhadap kelompok maupun negara. Bagian awal memetakan peran narasi nasional, simbol-simbold kebangsaan, dan media massa dalam membentuk identitas. Symbol-simbol seperti bahasa resmi, kurikulum pendidikan, sejarah resmi, lagu kebangsaan, bendera, dan mitos nasional berfungsi sebagai pipa yang menyalurkan makna identitas kepada publik. Aktor-aktor sosial seperti media, kelompok kepentingan, asosiasi budaya, dan elit politik berperan sebagai agen yang memperkuat atau menantang narasi identitas. Ketika narasi-narasi ini menyatu dengan pengalaman sehari-hari, identitas politik menjadi kekuatan yang mengarahkan perilaku politik, membangun solidaritas, atau justru memicu polarisasi dan konflik.

 

Lebih lanjut, buku ini mengeksplorasi dinamika hubungan bilateral Indonesia-Malaysia melalui lensa identitas bersama dan perbedaan identitas nasional. Bagaimana keduanya mempengaruhi kerjasama regional, diplomasi, serta persepsi publik terhadap isu-isu kontemporer seperti kebijakan publik, ekonomi, dan keamanan regional dibahas secara rinci. Identitas politik memediasi negosiasi perbatasan, kerja sama kebudayaan, serta respons terhadap migrasi tenaga kerja dan isu-isu ekonomi di kawasan. Narasi identitas juga membentuk bagaimana publik memandang kerja sama regional, tantangan bersama, dan peluang yang dihadirkan oleh kerja sama bilateral maupun multilateral. Di lingkup domestik, identitas politik berinteraksi kuat dengan identitas sosial. Kelompok etnis, komunitas adat, dan minoritas berperan dalam membentuk wacana nasional melalui praktik budaya, media, dan pendidikan. Ketika kelompok-kelompok ini mendapatkan ruang representasi yang adil, kebijakan publik cenderung lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan beragam komunitas. Namun jika narasi identitas cenderung eksklusif, risiko diskriminasi, konflik, dan ketidaksetaraan meningkat. Buku ini juga menekankan pentingnya evaluasi kritis terhadap bagaimana institusi negara, media, dan jaringan organisasi membentuk identitas lewat pendidikan, memoria sejarah, peringatan, dan representasi budaya di ruang publik.

 

Secara keseluruhan, karya ini mengajak pembaca memahami identitas politik sebagai mekanisme kompleks yang mencakup praktik sehari-hari, ritual simbolik, dan dinamika kekuasaan yang terus berubah. Identitas tersebut mempengaruhi desain dan implementasi kebijakan publik, membentuk hubungan antar negara, serta menentukan bagaimana warga merespons dinamika politik kontemporer. Cerita-cerita tentang bangsa, simbol kebangsaan, dan pengalaman hidup nyata bersama-sama membentuk praktik politik yang berkelanjutan, sambil menekankan pentingnya dialog antarkelompok untuk menjaga kohesi nasional dan stabilitas regional.

 

Buku ini sesuai dengan SDGs (Sustainable Development Goals) 16 (Perdaimaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh