Resensi Buku

 

RELASI NEGARA KUASA DENGAN ISLAM DAlAM PUSARAN PILPRES 2024





Oleh: Lingga Kencana (Mahasiswa Ilmu Politik UNESA)

Penulis: Moch. Mubarok Muharam, dkk.

Penerbit: Pramudita

Tahun Terbit: 2025




Penting kiranya kita menelaah bagaimana kekuasaan negara, dalam hal ini direpresentasikan oleh Presiden Jokowi, berelasi, bernegosiasi, dan berhadapan dengan berbagai kekuatan Islam di Indonesia. Hubungan antara negara dan Islam dalam politik Indonesia bukan hal baru; tiap periode menampilkan wajah yang berbeda, menandai dinamika kontinuitas dan perubahan konteks politik, sosial, serta religius. Pada era Reformasi, relasi ini menjadi lebih kompleks karena lahirnya beragam aktor Islam yang memiliki gaya‑gaya politik, agenda-tegantung kebijakan, serta strategi mobilisasi yang beragam. Ruang politik publik pun meluas secara signifikan, memungkinkan berbagai suara, identitas, dan kelompok kepentingan untuk mengekspresikan kepentingan mereka lewat saluran institusional maupun budaya. Hal ini turut membuat batas antara simbol keagamaan dengan instrumen elektoral menjadi lebih kabur, sehingga simbol-simbol keagamaan dapat berfungsi ganda sebagai identitas kolektif maupun alat persuasi politik. Buku ini berupaya menunjukkan bahwa relasi kekuasaan tidak bersifat tunggal atau deterministik, melainkan medan tarik-menarik yang sangat dinamis.

Ia melibatkan aktor negara sebagai penyelenggara lembaga politik, kelompok Islam dengan spektrum luas—from organisasi massa, pemuka keagamaan, hingga organisasi dakwah—serta pihak media yang memiliki peran penting dalam pembentukan agenda publik dan framing wacana. Selain itu, relasi tersebut juga dipengaruhi oleh wacana yang berkembang di ruang publik, termasuk diskursus mengenai keadilan sosial, hak asasi, nasionalisme, pluralisme, serta toleransi beragama. Ketegangan antara kontrol negara terhadap gerak kekuatan-kekuatan Islam dan upaya kelompok Islam untuk mempertahankan otonomi politis mereka membentuk pola negosiasi yang beragam, mulai dari kompromi politik, koalisi strategis, hingga konfrontasi retorik yang tajam di arena legislatif, media, dan perhatian publik.Dengan pendekatan studi literatur yang mendalam, buku ini menyusun analisis konseptual dan historis tentang bagaimana kekuasaan dijalankan, dinegosiasikan, dan dilawan dalam ruang relasi negara dan Islam.

Analisis tersebut tidak hanya menyoroti mekanisme formal kekuasaan—seperti kebijakan, regulasi, serta kebijakan publik yang menyangkut islamisasi budaya maupun institusional—tetapi juga menggali dinamika praksis politik di balik layar, termasuk bagaimana simbol-simbol agama diartikulasikan dalam kampanye politik, bagaimana narasi identitas dibentuk, dan bagaimana kelompok Islam merespons langkah-langkah negara dengan berbagai strategi mobilisasi. Penulis menggunakan teori-teori kekuasaan, representasi, dan politik identitas untuk membedah cara negara mengelola kekuatan Islam sebagai potensi maupun tantangan, serta bagaimana proses representasi berperan dalam legitimasi atau delegitimasi kebijakan negara terhadap komunitas Muslim. Tanpa data lapangan langsung, buku ini mengandalkan refleksi kaya dari berbagai literatur akademik, laporan riset, dan pemikiran para ahli sebagai basis analisis. Keberadaan beragam referensi tersebut memungkinkan pembaca melihat lintasan historis yang panjang serta kontinuitasnya, sambil tetap menyoroti moment-moment perubahan yang disebabkan oleh dinamika internal komunitas Muslim, perubahan koalisi politik nasional, serta tekanan internasional terkait demokrasi dan hak minoritas. Dengan demikian, buku ini tidak hanya menyajikan gambaran deskriptif tentang relasi negara–Islam, tetapi juga menawarkan kerangka konseptual untuk memahami bagaimana kekuasaan dibentuk, ditempatkan, dan direkognisi melalui dinamika identitas, legitimasi, dan strategi politik pada periode pasca-reformasi.

Buku ini sesuai dengan SDGs (Sustainable Development Goals) 16 (Perdaimaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh