TANGGAPAN VIDEO PERNYATAAN KONVENSIONAL AMIEN RAIS TENTANG TEDDY, MENGULIK SUDUT PANDANG JURGEN HABERMAS: Oleh Muhammad Akmal Alfakhreza (Mahasiswa Ilmu Politik 2025)
Mengingat mata kuliah komunikasi dan lobi politik, saya menyadari bahwa seorang tokoh politik memegang peran yang sangat vital dalam bagaimana mereka menyampaikan pesan politik kepada khalayak umum. Etika dalam penyampaian serta kebenaran yang diutarakan akan berdampak besar bagi masyarakat dan tentunya akan memengaruhi arah politik ke depannya. Berbagai teknik dan pendekatan dalam komunikasi politik sering saya lihat. Salah satu yang cukup menarik adalah penggunaan pernyataan kontroversial yang mampu memicu perdebatan di ruang publik.
menurut saya pernyataan kontroversial yang dikeluarkan oleh tokoh politik sebenarnya bukan hal yang baru karena dinamika seperti ini sudah menjadi bagian dari proses politik. Dalam konteks pembahasan, persoalan tidak hanya terletak pada isi pernyataan yang diutarakan, melainkan pada dampaknya terhadap kepercayaan publik dalam menilai politik itu sendiri. Ketika seorang tokoh senior seperti Amien Rais melontarkan pernyataan yang memicu polemik terhadap sosok Letkol Teddy, ruang publik yang awalnya bisa diisi dengan perdebatan substansi justru bergeser menjadi respons emosional yang berpotensi mempolarisasi masyarakat.
Pada 30 April 2026, Amien Rais mengeluarkan sebuah video yang kemudian di take down setelah adanya tindakan atau permintaan dari Komdigi terhadap konten tersebut. Dalam video tersebut, ia menyampaikan pernyataan yang mengarah pada tuduhan personal terhadap Letkol Teddy. Pernyataan tersebut pada akhirnya bukan hanya memicu kontroversi, tetapi juga membentuk cara pandang publik yang bergeser dari penilaian berbasis profesionalitas dan kompetensi menjadi penilaian yang bersifat personal dan moral.
Selain itu, dalam wawancara dengan berbagai media, Amien Rais menyampaikan pandangannya bahwa dalam negara demokrasi setiap orang berhak untuk berpendapat, termasuk ketika pendapat tersebut bertentangan dengan pihak lain. Ia menekankan bahwa perbedaan tersebut seharusnya berkaitan dengan kepentingan bangsa. Di satu sisi, pernyataan ini menegaskan kebebasan berpendapat, tetapi di sisi lain justru memicu polemik di ruang publik.
Terlepas dari benar atau tidaknya tuduhan yang disampaikan, pernyataan tersebut telah membangun framing di ruang publik. Publik tidak lagi melihat persoalan secara rasional, melainkan cenderung terjebak dalam penilaian yang emosional dan bahkan menyerang aspek personal Letkol Teddy. Dalam kondisi seperti ini, polarisasi menjadi sulit dihindari karena masyarakat lebih mudah terbawa arus opini dibandingkan melakukan analisis yang mendalam terkait fenomena yang terjadi.
Fenomena ini mengingatkan saya pada konsep ruang publik yang dikemukakan oleh Jürgen Habermas, di mana ruang publik seharusnya menjadi tempat diskusi yang rasional dan terbuka. Namun, dalam konteks ini, realitas yang terlihat justru sangat berbanding terbalik. Ruang publik cenderung diisi oleh ekspresi yang bersifat emosional dan personal sehingga mengubah fungsi idealnya sebagai ruang deliberasi yang sehat.
Menurut saya, dampak dari fenomena ini akan menjadi semakin signifikan mengingat posisi Amien Rais sebagai tokoh reformasi sekaligus figur publik yang memiliki pengaruh besar. Jika pola komunikasi seperti ini terus digunakan oleh para politisi, maka bukan tidak mungkin kepercayaan publik terhadap kualitas pesan komunikasi politik akan semakin menurun atau bahkan tidak dipercaya lagi.