Pengaruh Influencer Religius dalam Pilpres 2024: Mendorong Partisipasi atau Membelah Bangsa?
Oleh: Rifda Zhahwa Kirania Putri I
Departemen Ilmu Politik, Universitas
Surabaya
Di tengah era digital yang sarat dengan
disrupsi informasi, pemilihan presiden (Pilpres) 2024 di Indonesia menghadirkan
fenomena baru: naik daunnya para influencer religius sebagai
aktor politik informal. Mereka bukan tokoh partai atau politisi, tetapi
memiliki pengaruh besar dalam membentuk opini publik. Dengan jutaan pengikut di
platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube, mereka tak hanya berbicara soal
agama—mereka juga memberi sinyal politik, baik secara terang-terangan maupun
terselubung.
Ketika Konten Keagamaan Bertemu Strategi Politik
Dalam budaya masyarakat Indonesia yang
menjunjung tinggi nilai keagamaan, pesan dari tokoh religius memiliki daya
jangkau luar biasa. Para influencer religius memadukan
otoritas spiritual dengan gaya komunikasi yang akrab dan persuasif. Mereka
sering menyisipkan pesan-pesan politik dalam dakwah atau konten reflektif
mereka, yang kemudian dibaca sebagai endorsement terhadap tokoh tertentu.
Mereka tidak harus menyebut nama
kandidat secara eksplisit. Cukup dengan membahas nilai-nilai seperti “pemimpin
yang amanah” atau “sesuai syariat”, para pengikutnya sudah bisa menangkap arah
pesan tersebut. Hal ini menjadi bentuk framing yang halus namun sangat efektif,
terutama bagi pemilih yang religius atau belum menentukan pilihan (swing
voters).
Identitas Religius dan Preferensi Politik
Identitas keagamaan kini menjadi
penentu kuat dalam memilih calon pemimpin. Masyarakat cenderung merasa lebih
terhubung dengan calon yang mencerminkan nilai-nilai keimanan mereka. Kandidat
yang menunjukkan keterlibatan dalam kegiatan keagamaan atau didukung oleh tokoh
religius ternama lebih mudah diterima oleh kelompok pemilih berbasis agama.
Namun di sisi lain, ini juga
menimbulkan tantangan besar. Politik identitas yang mengakar bisa membuat
pemilih mengabaikan kualitas program dan rekam jejak kandidat, serta
menyulitkan terwujudnya ruang politik yang rasional dan inklusif. Bahkan, ada
risiko meningkatnya eksklusivisme dan polarisasi sosial berbasis agama.
Manfaat dan Bahaya yang Mengintai
Tak bisa dipungkiri, kehadiran
influencer religius membawa beberapa dampak positif. Mereka berhasil menarik
perhatian publik terhadap isu-isu politik dan mendorong partisipasi kelompok
yang sebelumnya cenderung apatis, terutama generasi muda. Mereka juga
mengangkat diskusi soal etika, moral, dan kepemimpinan dari perspektif nilai
keagamaan.
Namun, jika tidak dikelola dengan
bijak, efeknya bisa kontraproduktif. Politisasi agama dapat membingungkan batas
antara keimanan dan propaganda. Ketika emosi religius mendominasi, pemilih bisa
menjadi rentan terhadap manipulasi dan kehilangan objektivitas. Bahkan, tokoh
religius yang sebelumnya dihormati bisa kehilangan integritas jika dianggap
terlalu berpihak.
Menghindari Jurang Polarisasi
Polarisasi sosial berbasis agama
bukanlah isapan jempol. Dalam pemilu sebelumnya, kita sudah menyaksikan
bagaimana masyarakat terbelah karena sentimen sektarian. Narasi yang
menyudutkan kelompok minoritas, atau glorifikasi berlebihan terhadap satu
identitas, bisa memicu eksklusivitas dan membahayakan persatuan bangsa.
Karena itu, peran para influencer
religius harus dilihat dengan dua sisi. Mereka bisa menjadi agen edukasi
politik yang luar biasa, namun juga bisa menjadi alat politik yang membelah
jika tidak dibarengi literasi kritis.
Langkah Bijak ke Depan
Agar fenomena ini tidak menjadi
bumerang bagi demokrasi, diperlukan upaya kolektif. Pertama, literasi politik
harus ditingkatkan—masyarakat harus diajak berpikir kritis dan tidak sekadar
ikut arus. Kedua, tokoh agama harus menjaga keseimbangan antara peran spiritual
dan sosial-politik, dengan tetap mengedepankan inklusivitas dan toleransi.
Ketiga, media sosial perlu dikawal agar tidak menjadi lahan subur bagi
penyebaran ujaran kebencian atau politik identitas yang ekstrem.
Pilpres 2024 bukan hanya ajang memilih
pemimpin, tetapi juga ujian bagi kematangan demokrasi kita. Dalam dunia di mana
opini bisa dibentuk hanya dalam satu klik, masyarakat dituntut untuk menjadi
pemilih yang sadar, bukan sekadar pengikut. Dan di sinilah peran influencer
religius akan terus menjadi sorotan: apakah mereka menjadi jembatan untuk
membangun, atau justru jurang yang memisahkan?