KATANYA SWASEMBADA, TAPIRAKYAT MASIH SESAK DI DADA oleh ULFA LUKFIA Mahasiswa Ilmu Politik 2025
Dia bilang, kita negara kuat. Dia mau swasembada. Dia bilang, impor bakal dihentikan. Tapi rakyat disuruh percaya pakai apa? Perut kosong? Atau dompet yang isinya tinggal struk belanja? Lucu memang negeri ini.
Yang naik bukan cuma harga, tapi juga ego pejabatnya. Rakyat sudah pengap nyari hidup, mereka masih sempat bacot di depan kamera seakan semua baik-baik saja. Padahal yang dibawa cuma janji busuk yang dipoles tepuk tangan.
Dia bilang, demi rakyat, tapi tiap hari rakyat ditindas. Minyak mahal. Beras mahal. Kerja susah. Tapi pemimpin masih sempat nyocot seolah pidato bisa mengganti isi dapur yang kosong.
Tentu saja mereka tenang. Mungkin karena yang antre BBM bukan mereka. Yang bingung bayar kontrakan bukan mereka. Yang muter otak biar anak tetap makan juga bukan mereka. Enak memang bicara soal masa depan kalau hidup sendiri sudah aman tujuh turunan.
Negeri ini bukan kekurangan sumber daya. Yang kurang itu malu. Malu karena terus menjual harapan palsu. Malu karena rakyat dijadikan penonton penderitaan sendiri. Dan malu karena negeri ini makin bobrok, tapi mereka masih sibuk pencitraan. Yang keluar dari mulut mereka cuma, "tenang, semuanya terkendali." Terkendali dari mana? Rakyat udah capek hidup kayak dikejar bencana tiap hari sedangkan para tikus berdasi masih sibuk rebut kursi. Seakan negeri ini cuma meja makan buat mereka pesta sendiri.
KALAU MEMANG TAK MAMPU BIKIN RAKYAT TENANG, SETIDAKNYA JANGAN TAMBAH LUKA DENGAN OMONG KOSONG!